KEGUNAAN SIG DIBIDANG PERIKANAN DAN KELAUTAN
PADA PERAIRAN SELAT SUNDA
Dosen Penanggung Jawab
Rusdi
Leidonald, S.P, M.Sc
Oleh:
KARTIKA DEWI
110302011
MANAJEMEN SUMBERDAYA
PERAIRAN

SISTEM INFORMASI SUMBERDAYA PERAIRAN
MANAJEMEN
SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN

2013
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis
ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat-Nya penulis
dapat menyelesaikan laporan Praktikum Sistem Informasi Sumberdaya
Perairan. Dalam laporan Sistem Informasi Sumberdaya Perairan yang berjudul “Kegunaan SIG dibidang Perikanan dan Kelautan Pada Perairan Selat Sunda” yang
akan dijadikan landasan utama dalam membahas tentang kegunaan SIG pada jaringan irigasi kabupaten Sidoarjo.
Pada kesempatan ini
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Rusdi Leidonald, S.P, M.Sc selaku
dosen mata kuliah Sistem Informasi Sumberdaya Perairan dengan segala kesabaran
dan bimbingannya sehingga laporan ini dapat diselesaikan, dan tidak lupa
penulis mengucapkan terima kasih kepada sumber dan teman-teman yang telah
memberikan masukan agar laporan ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa
laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini. Akhir
kata penulis mengucapkan terima kasih.
Medan,
April 2013
Penulis
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Di indonesia, pendugaan sumberdaya
ikan telah banyak dilakukan terutama oleh para peneliti dalam memperkirakan
besarnya stok ikan yang bisa dimanfaatkan di suatu perairan. Dalam mengatasi
kelemahan keabsahan data statistik perikanan, salah satu metode yang digunakan
adalah penerapan metode akustik. Hasil riset akustik masih terbatas pada
laporan penelitian dan belum banyak dimanfaatkan secara luas oleh para praktisi
perikanan termasuk kalangan pemerintah. Untuk itu diperlukan penyebarluasan
informasi melalui sistem pengelolaan data yang baik agar dihasilkan informasi
yang mudah diakses dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh pengguna. Salah
satu perangkat yang mampu mengelola hal tersebut adalah Sistem Informasi
Geografis (SIG). SIG adalah suatu sistem yang dapat melakukan pengumpulan,
penyimpanan, pemanggilan kembali, pemindahan dan pemrosesan tampilan data
spasial dari keadaan sebenarnya di bumi untuk suatu tujuan tertentu. Penerapan
teknologi SIG bermanfaat untuk pengelolaan data referensi geografis.
Perencanaan dan
pengelolaan sumberdaya air yang baik mutlak diperlukan untuk menjaga
kelestariannya. Untuk itu dipelukan informasi yang memadai yang bisa digunakan
oleh pengambil keputusan, termasuk diantaranya informasi spasial. Sistem
Informasi Geografis (SIG) merupakan teknologi spasial yang sedang berkembang
saat ini. Sebagaian besar aplikasi SIG untuk pengelolaan sumberdaya air masih
sangat kurang di negara Indonesia meskipun perkembangan SIG sudah maju pesat di
negara-negara lain. Perencanaan dan pengelolaan sumberdaya air harus dilakukan
terpadu mulai dari sumber air sampai dengan pemanfaatannya. Informasi secara
spasial akan sangat membantu pada proses pengambilan keputusan dalam
pengelolaan sumberdaya air. Saat ini, telah tersedia alat bantu untuk proses
analisa secara spasial berupa software-software SIG diantaranya adalah program
ArView GIS yang dikeluarkan oleh ESRI (Environmental System Research Institute)
Inc.
Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan salah satu produk
ilmu komputer yang paling mutahir saat ini. Pengertian tentang SIG itu sangat
beragam. Hal ini sejalan dengan perkembangan SIG itu sendiri sejak pertama kali
SIG dikembangkan oleh Tomlinson tahun 1967.
Sejalan dengan
bertambahnya populasi dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia
memanfaatkan lahan dengan secara berlebihan untuk menghasilkan produk yang
maksimal dari pemanfaatan lahan tersebut. Dengan adanya bantuan media peta, seseorang
dapat dengan mudah melihat suatu lokasi tersebut tanpa harus menghabiskan biaya
yang mahal.
Tujuan
Tujuan dilakukannya pembuatan
aplikasi SIG dalam bidang kelautan dan perikanan :
- Mengetahui
ikan di laut berada dan kapan bisa ditangkap
- jumlah
yang berlimpah merupakan pertanyaan yang sangat biasa didengar.
- Meminimalisir
usaha penangkapan dengan mencari daerah habitat ikan, disisi biaya BBM
yang besar, waktu dan tenaga nelayan
- mengetahui
area dimana ikan bisa tertangkap dalam jumlah yang besar
Manfaat :
Salah satu alternatif yang
menawarkan solusi terbaik adalah mengkombinasikan kemampuan SIG dan
penginderaan jauh (inderaja) kelautan. Dengan teknologi inderaja faktor-faktor
lingkungan laut yang mempengaruhi distribusi, migrasi dan kelimpahan ikan dapat diperoleh secara berkala, cepat dan
dengan cakupan area yang luas.
PEMBAHASAN
2.1 Sistem Informasi Geografi
Pada dasarnya, istilah sistem informasi
geografis merupakan gabungan dari tiga unsur pokok: sistem, informasi, dan geografis.
Dengan melihat unsur-unsur pokoknya, maka jelas SIG merupakan salah
satu sistem informasi dan SIGmerupakan suatu sistem yang menekankan pada unsur
"Informasi Geografis".Penggunaan kata Geografis" mengandung
pengertian suatu persoalan mengenai bumi: permukaan dua atau tiga dimensi.
Istilah "Informasi Geografis" mengandung pengertian informasi
mengenai keterangan-keterangan (atribut) yang terdapat di permukaan bumi
yang posisinya diberikan atau diketahui. Dengan memperhatikan pengertian
Sistem Informasi, maka SIG merupakan suatu kesatuan formal yangterdiri dari
berbagai sumber daya fisik dan logika yang berkenaan dengan objek-objek yang
terdapat di permukaan bumi. Dan, SIG merupakan sejenis perangkatlunak yang
dapat digunakan untuk pemasukkan, penyimpanan, manipulasi,menampilkan, dan
keluaran informasi geografis berikut atribut-atributnya.
Sistem Informasi Geografi dibagi menjadi
dua kelompok yaitu sistem manual (analog) dan sistem otomatis (yang berbasis
digital komputer). Perbedaan yang paling mendasar terletak pada cara
pengelolaanya. Sistem informasi manual biasanya menggabungkan beberapa data
seperti peta, lembar transparansi untuk tumpang susun (overlay), foto udara,
laporan statistik dan laporan survey lapangan. Kesemua data tersebut dikompilasi
dan dianalisis secara manual dengan alat tanpa komputer. Sedangkan sistem
informasi geografis otomatis telah menggunakan komputer sebagai sistem pengolah
data melalui proses digitasi.
Sistem
Informasi Georafis atau Georaphic
Information Sistem (GIS) merupakan suatu sistem informasi yang berbasis
komputer, dirancang untuk bekerja dengan menggunakan data yang memiliki
informasi spasial (bereferensi keruangan). Sistem ini mengcapture,
mengecek, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisa, dan menampilkan data
yang secara spasial mereferensikan kepada kondisi bumi. Teknologi SIG
mengintegrasikan operasi-operasi umum database, seperti query dan analisa statistik, dengan
kemampuan visualisasi dan analisa yang unik yang dimiliki oleh pemetaan.
Kemampuan inilah yang membedakan SIG dengan Sistem Informasi lainya yang
membuatnya menjadi berguna berbagai kalangan untuk menjelaskan kejadian,
merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang terjadi.
SIG merupakan sebuah
sistem yang saling berangkaian satu dengan yang lain. BAKOSURTANAL menjabarkan
SIG sebagai kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat
lunak, data geografi, dan personel yang didesain untuk memperoleh, menyimpan,
memperbaiki, memanipulasi, menganalisi, dan menampilkan semua bentuk informasi
yang berefrensi geografis. Dengan demikian, basis analisis dari SIG adalah data
spasial dalam bentuk digital yang diperoleh melalui data satelit atau data lain
terdigitasi. Analisis SIG memerlukantenaga ahli sebagai interpreter, perangkat
keras komputer, dan software pendukung.
Pembahasan sistem informasi geografi ini
meliputi: pengertian sistem, pengertian informasi, pengertian sistem informasi,
geografi, pengertian sistem informasi, peta dan bagian-bagian nya, jenis-jenis
peta, persyaratan peta, uml (unified modeling language), class diagram,
sequenqe diagram, collaboration diagram, component diagram, deployment diagram.
Ada 3 pandangan
mengenai definisi SIG, yaitu menurut pendekatan dengan sudut pandang kegunaan
alat (tool box approach), pendekatan database dan pendekatan proses. Dari sudut
pandang kegunaan alat, SIG dapat
didefinisikan sebagai seperangkat peralatan yang dipergunakan untuk mengoleksi,
menyimpan, membuka, mentransformasi dan menampilkan data spasial dari sebuah
kondisi geografis yang sebenarnya (real world). Sedangkan dari sudut pandang pendekatan database, SIG adalah sebuah
sistem pangkalan data (database) dimana sebagian besar data diindex secara
spatial/geografis dan dioperasikan dengan menggunakan seperangkat prosedur yang
ditujukan untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan data
spasial/geografi. Menurut pandangan pendekatan
proses SIG adalah seperangkat fungsi dengan kemampuan yang
canggih, yang dapat digunakan oleh para profesional untuk menyimpan,
menampilkan, dan memanipulasi/ mengoreksi data geografis/spasial. Ketiga
definisi tersebut sepakat adanya sebuah data yang mempunyai orientasi
spasial/geografi.
Sedangkan struktur data SIG ada dua macam yaitu
vektor dan raster. Pada struktur data vektor posisi objek dicatat pada system
koordinat. Sedangkan objek pada raster disimpan pada grid dua dimensi yaitu
baris dan kolom. Data atribut atau tabular merupakan data yang menyimpan
informasi mengenai nilai atau besaran dari data grafis. Untuk struktur data
vektor, data atribut tersimpan secara terpisah dalam bentuk tabel. Sementara
pada struktur data raster nilai data grafisnya tersimpan langsung pada nilai
grid atau piksel.
2.2 Pemetaan Perairan
Selat Sunda
Adapun sasaran yang ingin dicapai
adalah memetakan distribusi kelimpahan ikan di perairan Selat Sunda pada empat
musim yang, memetakan pendugaan prioritas wilayah penangkapan ikan di perairan
Selat Sunda, dan mengaplikasikan teknologi SIG dalam penyajian data kelimpahan
ikan hasil survei akustik. Data yang diolah dan dianalisis pada penelitian ini
adalah data penelitian hasil survei akustik pada bulan Januari, Maret, Juli dan
Desember 1998 di wilayah perairan Selat Sunda. Pengolahan dan analisa SIG
dilakukan di di Laboratorium TiSDA BPPT. Pemetaan dan analisa kelimpahan ikan
dilakukan dengan menggunakan software ARC/INFO dan ARCVIEW. ARC/INFO digunakan
untuk mendigitasi dan mengedit peta serta memasukan data spasial dan data
atribut sehingga diperoleh sistem informasi yang terintegrasi secara geografis.
ARCViEW digunakan untuk memanipulasi informasi yang dihasilkan sehingga mampu
menghasilkan informasi yang diperlukan. Penentuan prioritas wilayah penangkapan
dilakukan dengan mengklasifikasikan stasiun-stasiun pengambilan data dengan
menggunakan Cluster Anaiysis sehingga dapat diperoleh peta prioritas.
SIG perikanan lebih sering bermain
dengan bentuk data raster. Data2 SST, klorofil dll tersebut merupakan suatu
data dari citra satelit yang berbentuk raster. Data raster mempunyai kelemahan
dalam proses penyimpaan dan kemampuannya berinteraksi dengan data atribut. Data
bentuk raster membutuhkan tempat penyimpanan yang sangat besar sehingga boros
hardisk, data raster juga merupakan data angka per pixel sehingga tidak bisa di
gabung dengan data tabel, keadaan ini terjadi apabila data raster tersebut
bersifat degradasi. Untuk bisa menggabungkannya dengan data tabel harus di
reklasifikasi terlebih dahulu, sehingga membentuk ID2. Interkasi data atribut
dengan data spasial sangat berguna pada lokasi pendaratan ikan, dimana
pelaporan secara berkala tentang hasil penagkapan ikan akan memberikan
informasi wilayah penghasil ikan terbesar dan informasi tentang pemanfaatan
potensi perikanan yang ada disekitar lokasi pendaratan kapal.
BAB III
PENUTUP
SIG perikanan lebih sering bermain
dengan bentuk data raster. Data2 SST, klorofil dll tersebut merupakan suatu
data dari citra satelit yang berbentuk raster. Data raster mempunyai kelemahan
dalam proses penyimpaan dan kemampuannya berinteraksi dengan data atribut. Data
bentuk raster membutuhkan tempat penyimpanan yang sangat besar sehingga boros
hardisk, data raster juga merupakan data angka per pixel sehingga tidak bisa di
gabung dengan data tabel, keadaan ini terjadi apabila data raster tersebut
bersifat degradasi. Untuk bisa menggabungkannya dengan data tabel harus di
reklasifikasi terlebih dahulu, sehingga membentuk ID2. Interkasi data atribut
dengan data spasial sangat berguna pada lokasi pendaratan ikan, dimana
pelaporan secara berkala tentang hasil penagkapan ikan akan memberikan
informasi wilayah penghasil ikan terbesar dan informasi tentang pemanfaatan
potensi perikanan yang ada disekitar lokasi pendaratan kapal.
pandangan mengenai
definisi SIG, yaitu menurut pendekatan dengan sudut pandang kegunaan alat (tool
box approach), pendekatan database dan pendekatan proses. Dari sudut pandang kegunaan alat, SIG dapat
didefinisikan sebagai seperangkat peralatan yang dipergunakan untuk mengoleksi,
menyimpan, membuka, mentransformasi dan menampilkan data spasial dari sebuah
kondisi geografis yang sebenarnya (real world). Sedangkan dari sudut pandang pendekatan database, SIG adalah sebuah
sistem pangkalan data (database) dimana sebagian besar data diindex secara
spatial/geografis dan dioperasikan dengan menggunakan seperangkat prosedur yang
ditujukan untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan data
spasial/geografi. Menurut pandangan pendekatan
proses SIG adalah seperangkat fungsi dengan kemampuan yang
canggih, yang dapat digunakan oleh para profesional untuk menyimpan,
menampilkan, dan memanipulasi/ mengoreksi data geografis/spasial. Ketiga
definisi tersebut sepakat adanya sebuah data yang mempunyai orientasi
spasial/geografi.
DAFTAR
PUSTAKA
Abidin,
H.Z. 2007. Penentuan Posisi Dengan GPS
dan Aplikasinya. Jakarta: PT.Pradnya Paramita.
Affandi,
A.R. 2008. Penyediaan Peta Dasar Dalam
Pembuatan Peta Kadaster Laut Sebagai Masukan Kebijakan Dalam pengaturan Ruang
Laut di Indonesia (Studi Kasus: Perairan Selat Madura). Surabaya: Teknik
Geomatika FTSP-ITS.11
Anjar,
S., 2002. Pemanfaatan GIS Untuk Penyusunan Sistem
Informasi Irigasi. di kutip dari http://repository.usu.ac.id (diakses tanggal
26 Maret 2013).
Aziz,
M., dan Pujiono, S. 2006. Sistem
Informasi Geografis Berbasis Desktop dan Web. Yogyakarta: Gava Media.
Budiyanto, E. 2002. Sistem Informasi Geografis Menggunakan ARCVIEW GIS. Andi. Jakarta.
Prahasta,
E. 2004. Sistem Informasi Geografis:
Totorial Arcview.
CV. Informatika, Bandung.
Sutrisno, H. 2010. Aplikasi SIG Dengan
ArcView 3.3 untuk
Simulasi Perancangan Pipa di Pdam Tirta
Moedal Selat Sunda. di
kutip dari http:/eprints.undip.ac.id. (diakses
tanggal 26 Maret 2013).
Suprapto,
Anjar. 2001. Aplikasi ArcView Gis Untuk Pengelolaan Sumberdaya Air. Diakses dari http://www.eprints.undip.ac.id. [27 Maret 2013]